Kamis, 06 Agustus 2015

MALU







Beberapa hari lalu, saat ramai-ramainya berita Lady Gaga,  saya mendapat pesan dari seseorang di inbox saya. Ia nampaknya merasa terganggu dengan  status di wall saya yg sudah lebih dari 2 minggu itu berputar-putar masalah muslimah lesbian Irshad Manji dan pendukung homoseksual Lady Gaga.

"Mas, anda ini gak faham dunia entertainment siiih ? Makanya yg gaul. Jangan ngaji tok. Hargai perbedaan dan keragaman.  Jadi org jangan kealiman, mas. Ini dunia hiburan.  Dunia musik.  Tau gak sih anda, Lady Gaga itu penyanyi International. Dengan dia show di sini, nama Indonesia bisa semakin harum dan dikenal dikalangan artis dan musisi dunia. Kan bermanfaat juga untuk dunia seni dan pariwisata kita ? Kalau tidak tahu musik dan dunia hiburan tidak usah banyak bacot ," begitu tulisnya.

Saya lihat profile si penulis pesan ini. Dari status-status yang dia tulis, ia cukup religius.  Beberapa “kesukaan” yang ia ikuti tidak sedikit mengarah ke hal-hal religi. Ketika saya baca latar belakang pendidikannya, ternyata ia pernah cukup lama mondok di pesantren dan sekarang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam.

Saya jadi malu.

Saya tidak ada apa-apanya dibanding beliau. Dari TK sampai lulus kuliah saya  tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah agama. Semuanya sekolah Negeri.

Pendidikan agama hanya dari sekolah yang cuma 2 jam seminggu.  Untuk mengimbangi kekurangan itu, orang tua saya mendatangkan guru ngaji ke rumah. Guru ngaji saya sangat sabar dan bersahaja. Beliau biasa dipanggil dengan nama Pak Jalil. Dikemudian hari, baru saya tahu ternyata beliau – Drs Abdul Djalil Zuhri, MAg - adalah salah satu tokoh kepramukaan dan sekaligus tokoh pendidikan Islam yang sukses mengembangkan sekolah madrasah menjadi sekolah unggulan di kota Malang. Setiap  minggu, di hari-hari  yang sudah ditentukan, beliau datang ke rumah. Selama lebih dari 7 tahun saya belajar ngaji ke beliau, dari beliau masih menggunakan sepeda angin sampai ia memiliki sepeda motor.


Di samping itu, sejak kelas 2 SD, di kala anak-anak seusia saya tidur siang, setiap 1 minggu sekali saya harus mengikuti les private piano. Ada becak langganan yang selalu mengantar ke tempat les tiap Kamis jam 2 siang.  Lokasinya kurang lebih 5 km dari tempat tingggal saya. Sebuah rumah, yang bagian depannya digunakan sebagai studio radio Nasrani – radio Imannuel namanya -  yang  juga menjual buku-buku agama Kristen. Di situlah guru saya Suz Merry tinggal dan memberikan kursus piano private kepada murid-muridnya, termasuk kepada saya.





Seingat saya, dari sekian puluh siswa beliau, hanya kami, (saya, kakak dan adik) yang  asli pribumi dan beragama Islam. Murid-murid beliau yang lain mayoritas berdarah sama dengan beliau, Tionghoa.  Setiap setaun sekali kami biasanya dipertemukan dalam sebuah konser. Masing-masing siswa tampil memainkan komposisi dari komponis terkenal dunia seperti Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven, Johann Sebastian Bach, Frédéric Chopin dan lain-lain. Kami diwajibkan menghafalkan komposisi yang panjangnya berlembar-lembar itu selama kurang lebih 3 bulan. Jadi saat memainkannya di depan penonton, yang terdiri dari para murid dan orang tuanya, kami tidak diperkenankan membawa “contekan”. Harus benar-benar hafal dan tidak boleh salah.





Itulah mungkin  interaksi pertama dan terlama saya dengan mereka yang berbeda agama dan suku. Kelas 2 SD sampai lulus SMP bukan waktu yang singkat.


Dan yang bikin saya lebih malu lagi dibanding dengan latar belakang penulis di inbox saya, adalah pekerjaan yang pernah saya geluti selama belasan tahun.  Lebih dari 15 tahun saya berkecimpung di dunia hiburan, tepatnya radio siaran. Sudah tak terhitung berapa banyak lagu yang saya “hafal” dan putar. Tak terhitung sudah berapa banyak musisi kenamaan dalam negeri yang pernah saya temui, mulai dari yang masih baru sampai yang sudah “melegenda”. Tak terhitung sudah berapa banyak acara musik yang saya handle, entah sebagai produser acara ataupun sebagai pembawa acara.  Tak terhitung juga berapa banyak tempat hiburan mulai café sampai diskotik pernah saya masuki tiap hari dalam rangka tugas. Termasuk juga beberapa event musik internasional yang melibatkan musisi dunia pernah saya liput.




Kalau ingat beberapa tahun silam, saya benar-benar malu dengan si penulis itu. Saya memang tidak ada apa-apanya dibanding beliau. Di kala dia dan teman-teman seusia saya sudah asyik berdizkir seusai shalat Isya’, saya mungkin waktu itu sedang mempersiapkan event di tempat hiburan malam. Di kala dia dan orang lain sudah akan beristirahat di malam hari, saya mungkin baru saja mulai bekerja diiringi musik yang berdentam-dentum, di sebuah tempat hiburan malam.  Di kala dia bangun untuk melakukan shalat malam, saya mungkin baru saja akan meninggalkan tempat saya bekerja untuk kembali beristirahat di rumah.

Belum lagi interaksi saya dengan teman-teman istri saya sewaktu dulu masih bekerja sebagai kasir di salah satu Salon terkemuka di kota Malang. Sebagian dari mereka adalah kaum pecinta sesama jenis. Kami biasa jalan bareng, makan bareng, nonton bareng , hanya tidur bareng yang tidak pernah….:)

Berbicara masalah istri, keluarga dari ibu istri saya (ibu mertua) mayoritas beragama Nasrani. Beliau lahir di kota Muarateweh (Kalteng), dan berdarah asli suku Dayak Kapuas dan Tionghoa. Beliau menjadi mualaf ketika akan menikah dengan ayah mertua saya. Sampai hari ini, kami masih intensif berkomunikasi dengan family dari ibu mertua saya yg nasrani. Bahkan hampir tiap minggu, tante istri saya (nasrani) yang umurnya kebetulan seusia dengan istri saya, sering keluar bareng bersama kami. Kami juga sering bertukar pikiran masalah agama dengan santai dan enak tanpa menyakiti satu sama lain.

Saya memang pantas malu dengan beliau,  si pengkritik di inbox saya. Saya memang bukan orang alim, apalagi sealim beliau. Pengetahuan agama juga pasti kalah jauh dengan beliau.  Pergaulan dengan orang “ngerti agama” pasti juga lebih banyak di beliau.

Dan saya MESTINYA harus lebih malu lagi, ketika  realita di Indonesia belakangan ini menunjukkan sebagian orang-orang yang membela  Irshad Manji dan Lady Gaga adalah orang-orang yang ngerti agama. Orang-orang yang lebih sering menghabiskan waktunya dengan buku-buku agamanya dibanding saya yang tidak ada apa-apanya.

Tapi untungnya, alhamdulillah sampai detik ini ternyata saya tetap tidak malu dan ragu untuk mengatakan TIDAK untuk Irshad Manji dan Lady Gaga.  Saya juga tidak melihat bakal ada masalah yang serius dengan pembatalan konser Lady Gaga di mata musisi atau artis Internasional.

Justru dengan kejadian ini, para penyelenggara event music di Indonesia bisa lebih selektif dalam memilih artisnya. Sedangkan bagi para musisi atau artis luar yang akan show di Indonesia juga akan lebih memperhatikan dan menghormati  batasan-batasan yang harus dipatuhi saat akan tampil di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini.

Itu saja sebenarnya. Tidak perlu sampai berlarut-larut seperti kemarin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik

Kamis, 29 September 2011

JUDUL LAGU DAN NAMA PENYANYI ADALAH INFORMASI



Beberapa waktu yg lalu, salah seorang kawan mengeluhkan tentang radio (dan penyiarnya) yang “pelit” memberikan informasi judul lagu dan nama penyanyi yang baru saja diputar.

“Apa sih susahnya kasih tahu judul lagu dan nama penyanyinya ? Memangnya kita semua tahu dan  masih ingat judul lagu itu?” begitu ia menulis di status FBnya saat mendengar siaran sebuah radio on line di Indonesia.

Apa yang teman saya rasakan pasti juga pernah anda rasakan, karena saya pun juga sering merasakan hal yang sama.

Bisa dimaklumi kalau saat itu acaranya berupa news.  Tapi yang sedang kawan saya dengar bukan program news. Acaranya hiburan biasa. Putar lagu diseling beberapa infomasi ringan.

Saya menduga-duga, apakah mungkin si penyiar beranggapan menyampaikan judul lagu dan nama penyanyi bukan bagian dari menyampaikan informasi kepada pendengar ?

Atau ia anggap semua pendengarnya seperti dirinya, pasti tahu dan ingat apa lagu yang baru saja ia putar ?

Atau ia menganggap tidak penting informasi itu ? –kalau begitu apa perlunya juga dia putar lagu tidak penting itu ?

Atau, si penyiar beralasan bahwa itu memang kebijakan manajemen radionya ?

Hhhmm... dugaan saya, jangan-jangan ini hanya masalah penyiar yang kurang kreatif dalam menyikapi sebuah kebijakan.

Yang saya tahu, penyiar radio memang tidak boleh monoton saat bersiaran.
 Dia harus pandai-pandai mengolah kata sehingga apa yang disampaikan tidak membosankan. 

Jangan setiap kali “talk”, ia ngomong yang itu-itu saja.

Berarti, apa tidak boleh setiap kali “talk” menyebutkan judul lagu ?

Menurut saya, boleh-boleh saja, asal susunan kalimatnya,termasuk  pilihan kata-katanya, jangan sama terus menerus.

Misalnya setelah memutar lagu pertama ia mengatakan, “Itulah tadi lagu dari Marcel, Tak Terganti..bla la bla.”

Berikutnya, setelah lagu ke 2, ia kembali menyampaikan, “ Itulah tadi lagu dari Kahitna, Tak Sebebas Merpati.”

Nah, yang begini ini jelas terdengar sangat monoton dan membosankan.  Mestinya si penyiar bisa menyiasati dengan sedikit merubah susunan kalimatnya atau menambahi dengan informasi berkatian dengan lagu maupun penyanyinya.

Misalnya, setelah lagu pertama ia bicara begini, “Tak Terganti dari Marcel, saya yakin membuat anda tetap betah untuk meneruskan bergabung di program ini, dan tidakmengganti ke channel radio lain bla.,...bla....”

Setelah lagu ke 2, “Apakah memang setiap orang yang akan menikah merasakan seperti yg dirasakan Kahitna ya, menjadi Tak sebebas merpati ? Atau cuma si Yovie yang merasa Tak Sebebas Merpati ? bla...bla... bla....”

Saya yakin, menyebutkan judul lagu dan nama penyanyi di setiap talk, di program yang bukan News, tidak akan mengganggu kenikmatan pendengar dalam menyimak sebuah acara di radio. Juga tidak ada ruginya bagi stasiun radio bersangkutan.

Justru ini akan memberi nilai plus bagi si penyiar dan stasiun radio karena lambat laun akan tertanam di benak pendengar bahwa setiap mendengar radio tersebut pendengar akan bisa selalu mendapat informasi yang komplit sampai ke urusan lagu, yang nampaknya saat ini mulai diabaikan atau ditinggalkan penyiar dan radio-radio lain.

Bandingkan dengan kebanyakan radio di luar negeri yang sudah memanfaatkan fasilitas streaming untuk menyampaikan informasi lagu yang sedang diputar.

Kita akan dengan mudah mendapatkan informasi judul lagu dan nama penyanyinya terpampang di layar radio player saat lagu itu sedang terputar.

Sedangkan radio streaming di Indonesia ?

Masih bisa dihitung dengan jari yang melakukan hal yang sama. Kebanyakan hanya menampilkan nama radionya saja.

Padahal dengan menyebutkan atau menuliskan judul lagu dan nama penyanyi juga merupakan bagian dari menghargai suatu karya seni yang nyata-nyata setiap hari dimanfaatkan oleh sebuah stasiun radio.

Rabu, 14 September 2011

PENGULANGAN INFO WAKTU TAYANG DI PROMO ACARA

Promo acara bagi sebuah program di radio merupakan hal yang sangat penting.

Ibaratnya, ia sebagai alat pengingat, “woro-woro” atau pengumuman bagi pendengar yang belum tahu atau barangkali lupa dengan keberadaan program tersebut.

Sayangnya, tidak jarang pengelola program kurang maksimal dalam pembuatannya.

Yang seringkali terjadi, promo acara terlalu panjang dan detail sehingga malah membuat pendengar dibebani informasi terlalu panjang.  

Pembuat promo lupa bahwa radio bersifat selintas dan anti detail. Apabila yang disampaikan terlalu panjang dan rinci, justru malah akan menyulitkan pendengar untuk mengingat informasi yang baru saja ia dengar.  

Idealnya promo acara di radio berdurasi maksimal 1 menit saja.

Itupun cukup point terpenting dari program yang dipromokan. Bisa dalam bentuk narasi yang disampaikan oleh penyiar, baik dalam bentuk rekaman atau  live, atau bisa juga cuplikan dari acara tersebut. Biasanya yang terakhir ini (cuplikan / dummy acara) jauh lebih efektif dan mudah diingat oleh pendengar.

Hal kedua, yang kadang terabaikan saat pembuatan promo acara juga masih berkaitan dengan sifat radio yang selintas.

Masalah pengulangan informasi  jadwal waktu tayang acara.

Ya, pengulangan.

Tidak hanya satu-dua kali, kita mungkin pernah mengalami kejadian ketika mendengar sebuah promo program yang sangat menarik, ternyata di akhir promo kita baru tersadar belum mencatat atau mengingat di memori kita kapan waktu penayangan program itu.

Bukannya si pembuat promo tidak menyebutkan waktunya. Ia mungkin sudah menginformasikan itu di awal promo. Tapi ia terlupa untuk mengulang kembali informasi waktu tayangnya di bagian akhir promo.

Jangan lupa,  bisa jadi pendengar saat di awal-awal masih konsentrasi dengan isi atau gambaran dari acara yang sedang dipromosikan atau barangkali ia belum mendengarkan  atau konsentrasi dari awal. Sehingga ketika jadwal waktu penayangan hanya disampaikan di awal, pendengar masih belum 100 persen “ngeh”, bahasa Jawanya.

Oleh karena, tidak ada salahnya, untuk mengulang kembali informasi jadwal waktu penayangan program yang sedang dipromokan di bagian akhir dari promo acara. Sehingga tidak akan terjadi pendengar sampai  “ngedumel” baik di dalam hati mapun terucap, karena belum sempat mencatat atau mengingat kapan waktu penayangan acara yang dia tunggu-tunggu tadi

Bagaimana menurut anda ?

Senin, 12 September 2011

SEKALI MENGUDARA TETAP ONAIR DAN ONLINE

 
Siapa yang tidak mengikuti perkembangan tekhnologi akan habis.

Demikian pendapat beberapa pakar bisnis dan komunikasi mengomentari fenomena makin canggihnya tekhnologi di dunia maya dan maraknya perkembangan jumlah pengguna media jejaring social.

Saya jadi teringat, kemarin tanggal 11 September  diperingati sebagai Hari Radio di Indonesia.

Sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai hari lahir Radio Republik Indonesia.  Namun tidak salah juga kalau ia diperingati juga sebagai hari radio secara nasional, bukankah semua stasiun radio siaran yang ada di Indonesia berawal dari kelahiran RRI ?

 “Sekali di udara tetap di udara” adalah semboyan yang sangat terkenal dan dibanggakan sekali.

Walaupun memang pada kenyataannya ada juga radio, termasuk beberapa RRI di daerah, yang tidak konsisten dengan semboyan itu.  Jam-jam tertentu tetap harus berada di “darat” kembali.

Penghematan, alasannya.

Ya, tidak jadi masalah. Sebuah alasan yang sangat masuk di akal.

Nah, barangkali sekarang yang perlu dipikirkan adalah “penambahan” slogan atau semangat baru.

Tidak hanya “sekali di udara tetap di udara” tapi juga “sekali mengudara tetap on-air dan on-line”.

Mengapa begitu ?

Radio yang tidak memiliki fasilitas streaming online di Internet lambat laun diprediksi akan semakin ditinggalkan pendengarnya.

Dunia yang semakin “menyempit” membuat orang dengan mudahnya mendengarkan siaran radio yang ia suka dari berbagai belahan dunia hanya dengan sekali "klik".

Apalagi saat ini gadget dengan fasilitas yang canggih, termasuk untuk mendengarkan siaran radio online sudah bukan barang yang asing dan malah bagi anak muda di Indonesia.

Ditunjang lagi dengan biaya pemakaian Internet yang semakin hari semakin relative lebih murah.

Kalau sebuah stasiun radio masih merasa “nyaman” dengan tekhnologi dan cara lamanya, lambat laun ia akan semakin “terhapus” dari pilihan pendengarnya.

Dan bisa-bisa ramalan para pakar bisnis dan komunikasi akan kehancuran sebuah bisnis yang gagap tekhnologi benar-benar akan terjadi 5-10 tahun mendatang 

Jadi mari tambahkan slogan dan semangat baru di dunia radio dengan buktikan “sekali mengudara tetap on-air dan on-line”.

Selamat Hari Radio.

Selasa, 05 Juli 2011

GAGAL JADI PENYIAR RADIO

Saya pernah ditanya, berapa kali pernah melamar jadi penyiar.  Saya jawab berkali-kali.

Berapa kali gagal ?

Berkali-kali .

Saya lupa tepatnya berapa kali secara keseluruhan.  Seingat saya kurang lebih 4 atau 5 kali, atau bisa jadi malah lebih.

Pengalaman yang pertama kali ketika masih duduk di bangku SMA. Kalau tidak salah sekitar tahun 1987.

Saya sadar, pada masa itu memang sulit untuk bisa diterima  bekerja di stasiun radio, apalagi bagi mereka yang masih duduk di bangku SMA.  Masih belum “umum” anak SMA nyambi  jadi penyiar radio. Biasanya ada persyaratan minimal harus sudah lulus SMA. – maka bersyukurlah mereka yang di hidup di jaman sekarang, di mana stasiun radio malah membikin program special bagi anak-anak SMA untuk menjadi penyiar tamu.

Nah, waktu itu saya mencoba mengirimkan surat lamaran ke salah satu radio anak muda terkemuka di kota Malang. Dengan harap-harap cemas saya dengarkan setiap hari pengumuman yang disiarkan di radio ini. Ternyata sampai berminggu-minggu dipanggil pun tidak.

Setelah lulus SMA saya mencoba kembali melamar posisi penyiar di radio favorit saya. Kebetulan saya banyak kenal dengan personil yang ada di radio tersebut. Mulai dari tukang sapunya, waktu itu belum popular istilah Office Boy, sampai direktur utama bahkan ownernya.

Lumayan. Saya lolos interview. Lha, memang semua penginterviewnya saya kenal. Hehehe…

Pada waktu itu, saya memang termasuk fans berat radio tersebut. Mereka yang di masa SMA pernah menjadi pendengar radio ini pasti sudah tidak asing dengan nama saya. Gak pagi, gak siang dan gak malam, nama saya sering disebut oleh penyiar  dan disapa pendengar lain di program request lagu. Dulu istilah popluer untuk program request lagu adalah “attensi lagu” atau “salam-salaman”. Hehehe….

Tapi ternyata, untuk menjadi penyiar radio, modal kenal saja tidak cukup. Modal suara, termasuk tehnik mengolahnya seperti  penguasaan intonasi dan aksentuasi, menjadi hal yang jauh lebih penting.  Di masa itu saya sempat berpikir, barangkali profesi penyiar inilah satu di antara sedikit profesi di dunia yang relative aman dari KKN. Artinya, kalau memang tidak punya kemampuan, jangan harap bisa lolos menjadi penyiar biarpun punya kenalan orang dalam. Walaupun belakangan, saya dapati ternyata ada juga radio yang mau menerima penyiar baru, dengan kemampuan pas-pasan bahkan jauh dari standard, hanya karena hubungan kedekatan atau kekerabatan.

Nah, setelah mengikuti test vocal, saya dinyatakan tidak lolos. Nama saya tidak pernah disebut di pengumuman yang disiarkan tiap sore di radio bersangkutan. Rasanya kecewa banget. Apalagi radio itu sudah seperti menjadi bagian dari kehidupan saya.  Semenjak  masih duduk di kelas 1 SMA sampai lulus, saya hampir tidak pernah “absen” mendengarkan dan aktif berpartipasi di setiap programnya. Jadi bisa dibayangkan betapa kecewanya saya waktu itu.

Untunglah cita-cita saya menjadi penyiar tidak pernah kandas. Walaupun menemui kegagalan demi kegagalan, saya tidak pernah berhenti untuk belajar  dari radio-radio yang saya dengar, di manapun saya berada. Hari-hari saya tidak pernah lepas dari mendengarkan radio. Beberapa interview untuk jadi penyiar juga tetap saya ikuti.

Akhirnya baru di tahun 1993 saya berhasil diterima menjadi penyiar radio untuk pertama kalinya.

Tau gak di radio apa ?

Ternyata di radio favorit saya dulu semasa SMA, yang saya pernah gagal ketika test tahun 1987.


6 tahun setelah upaya saya yang pertama di radio itu. 

9 tahun setelah saya pernah menjadi fans setia di radio itu.  

5 kali setelah saya gagal test jadi penyiar radio di mana-mana.

1 tahun setelah saya lulus sebagai sarjana bahasa Inggris  di IKIP Malang.

Dan 1 bulan setelah saya lulus kursus penyiar Interstudi di Jakarta.

Nama radionya KDS 8.

Selasa, 31 Mei 2011

Buat 2 Orang Kawan Saya…- Sebuah Catatan Lama Dari Blog Saya di Friendster (1 Mei 2006)

Ini adalah catatan lama saya di Blog Friendster pada bulan Mei 2006. Waktu itu salah satu radio di kota saya sedang mengalami "gonjang-ganjing". Kondisi ini memaksa manajemen untuk melakukan perampingan pada sejumlah karyawan. Diantaranya menimpa 2 orang kawan seperjuangan saya di dunia radio. Mendengar berita itu saya seakan bisa ikut merasakan kesedihan mereka. Semuanya saya curahkan lewat tulisan berikut ini, yang saya tulis 5 tahun yang lalu.
-----
Buat 2 orang kawan saya, hari ini tidak sama lagi seperti hari-hari kemarin…

Saat ribuan buruh di berbagai tempat di Indonesia memperingati Hari Buruh Internasional, 2 orang kawan saya harus menerima kenyataan pahit, di PHK dari pekerjaannya !

Di saat ribuan buruh menyuarakan harapan demi harapan demi masa depan yang lebih baik, 2 orang kawan saya digelapkan masa depannya !

Mimpi indah yang telah terajut sekian lama bersama orang-orang terkasih dan tersayang seakan hancur terburai tak berbentuk…

Tangisan si kecil yang tiap hari menjadi penghilang rasa letih, hari ini menjadi tangisan yang memerihkan hati….

Kawan, saat kau menjelang tidur tadi malam, tentu kau masih berharap ini semua hanya mimpi, dan besok pagi kau akan terbangun dari mimpimu.

Yah, pagi ini kau memang terbangun seperti biasa. Matahari masih bersinar hangat…Burung masih tetap berkicau… udara masih terasa segar.

Tapi kau … pasti tak bisa merasakan itu semua.

Hari ini begitu mendung, tak ada kicau burung, tak ada udara segar. Yang ada hanya gelap, sepi dan terasa menyesakkan di dada.

Tiada lagi kata : “Papa berangkat kerja dulu ya…” atau “ Papa pulaang…”

Mau berangkat ke mana…mau pulang ke mana ???

Tiada ke mana-mana.

Tiada lagi jalanan aspal yang perlu disusuri ke tempat kerja. Tiada lagi SMS kawan yang titip minta dibelikan makanan kecil untuk dibawa ke kantor. Tiada lagi kesibukan memencet tuts komputer, memilih lagu dan memutar lagu…

Tiada lagi pendengar yang selama ini menjadi spirit di tiap-tiap harinya yang bisa disapa lagi….

Semuanya hilang lenyap…

Hari ini dan esok jadi begitu berbeda dari hari-hari biasanya…

Harapan dan impian seakan musnah…

“Keep on fighting my friend…

Dunia masih terhampar luas buatmu.

Jemput rezeki dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Karena hanya Dialah sebenar-benarnya sang Maha Pemberi Rezeki.

Bukan yang lain….

Keep on praying…

I’ll pray for you…

Penyiar Senior Ga’ Bisa Baca Adlib - Sebuah Catatan Lama dr Blog Saya di Friendster (25 Juni 2006)

Kabar akan "ditamatkannya" Friendster akhir bulan ini membuat saya tiba-tiba tergerak untuk menengok situs jaringan pertemanan yg pernah begitu populer di Indonesia beberapa tahun silam. Sejak terjadi perselingkuhan antara saya dengan Facebook 3 tahun lalu, halaman pribadi saya di Friendster memang tak pernah sekalipun saya nafkahi lahir dan batin.


Nah, di saat asyik bernostalgia dengan foto-foto dan testimoni di FS, saya menemukan beberapa catatan yang pernah saya tulis di blog milik Friendster. Semuanya berkaitan dengan dunia broadcasting. Beberapa catatan lama saya memang terasa agak pedas dan banyak mengkritik kondisi peradioan di masa itu. Gaya bahasanya pun cenderung lebih informal. Tapi mengingat umur Friendster yang tinggal beberapa jam lagi, rasanya sayang kalau saya biarkan tulisan itu ikut musnah. Oleh karenanya, mulai edisi kali ini saya akan coba tampilkan beberapa catatan yang pernah saya tulis di blognya Friendster. Mohon maaf kalau bahasanya barangkali terasa terlalu "kasar". Maklum, itu tulisan 5 tahun yg lalu...hehehe. Selamat menikmati, semoga bermanfaat.
(Foto : http://www.archives.gov.on.ca/english/on-line-exhibits/st-lawrence/pics/4392_30_loyalty1_720.jpg)

Senior ternyata bukan jaminan seorang penyiar bisa lebih baik dari yang junior. Bahkan untuk urusan yang harusnya udah jadi standard, belum tentu yang senior bisa lebih jago.


Baru-baru ini ga’ sengaja saya dengar siaran penyiar senior yang udah lebih dari 30 tahun malang melintang di radio di kota Malang. Acaranya dari dulu ga’ pernah yang lain kecuali dangdut. Pada masa itu namanya ngetop sekali. Tanyain aja orang-orang di pasar atau pelosok-pelosok kampung, 90% pasti mengenalnya.


Suaranya khas banget, powerful, tapi cempreng, apalagi kalo pas ketawa. Saya jadi ga’ bisa lupa suaranya gara-gara kekhasannya itu. Pokoke nyebelin pooouul, ngangenin…sekaligus kudu mbuaanting radioku….he he he…(yang terakhir ‘agak’ becanda kok)….!!???


Format siarannya dari dulu sampe sekarang hampir ga’ berubah : baca request, salam-salam dari pendengarnya pake nama dan alamat samaran yang aneh-aneh, mis. Putri Malu di Pondok Kerinduan(…..iiihh…tidaaaak), ditambah baca pantun buatan mereka. Pokoke dari radionya masih AM sampai FM, dari request masih pake kupon yang harus bayar sampai yang sekarang udah bisa langsung on-air by phone, acara nya yaaa tetep sama…. Baca request, trus putar lagu dangdut… Puluhan tahun kayak begitu.


Nah, kemarin ga’sengaja saya dengar caranya baca adlib …Ooh my God…saya bener-bener ga’nyangka and surprise. Ternyata masih bagusan murid saya di Kursus Penyiar Duta Suara. Swear !! Cara penyiar ini baca iklan persis kayak membaca. Sekali lagi MEMBACA. Bukan gaya siaran KOMUNIKATIF, tapi…belajar membaca. Sampai saya ga’ habis pikir, apa orang ini ga’ pernah ikutan diklat PRSSNI, padahal radionya tercatat sebagai anggota. Atau ni penyiar ga’ sempat belajar gimana cara baca naskah siaran/adlip yang baik dan benar saking sibuknya siaran (???). Atau beliau udah merasa jauh lebih senior (pintar) dari yang junior ? Atau beliau, bahkan si pengelola radio, merasa itu bukanlah hal yang penting ??? Terus gimana si penyiar senior bisa jadi panutan penyiar-penyiar muda lainnya ? Lebih jauh lagi, gimana radionya bisa bersaing sama yang lain ????


Waaahh…ternyata ga’ gampang ya jadi penyiar radio….Yang senior belum tentu bisa lebih baik. Keahlian harus terus diolah dengan belajar, berlatih, belajar berlatih dan begitu seterusnya ….tanpa henti.


Yok opo menurutmu rek ?

Rabu, 12 Mei 2010

PROSPEK PENYIAR RADIO (Bag.2)


Melanjutkan tulisan yang kemarin, kedua factor eksternal maupun internal tersebut, harus bisa disikapi secara tepat, utamanya ketika timbul suatu masalah yang nantinya akan dikaitkan dengan karir dan peningkatan kesejahteraan hidup seorang penyiar. Kalau salah dalam menyikapi akan timbul lingkaran setan yang pada akhirnya merugikan image dan profesi penyiar.


Ambil contoh, sebuah radio dengan kondisi pemasukan iklan yang bagus, namun pihak manajemen atau owner kurang memberikan penghargaan yang layak bagi penyiarnya. Apa yang bakal terjadi ? Penyiar akan kehilangan semangatnya, kualitas siarannya menjadi menurun dan berdampak pada kualitas program secara keseluruhan, yang menyebabkan pendengar juga menjadi malas untuk mendengarkan radio itu dan pengiklan juga ogah untuk memasang iklan di radio yang pendengarnya sedikit, apalagi dengan kualitas penyiar dan program yang buruk. Ujung-ujungnya, pihak perusahaan semakin tidak mampu membayar penyiarnya dengan layak, bahkan bayangan PHK semakin di depan mata. Atau kalaupun perusahaan masih bisa berjalan, penyiarnya sudah lebih duluan keluar dari radio itu untuk mencari perusahaan atau radio lain yang lebih baik dalam memberikan salary bagi karyawannya.


Begitu pula sebaliknya, ketika seorang penyiar yang bekerja di sebuah radio yang masih baru (atau lama) yang belum sehat dari sisi keuangannya, semestinya ia harus tetap mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kreativitas dan kualitas siarannya. Diharapkan dengan kreativitas dan kualitas yang meningkat, pendengar akan senang mendengarkan program yang dibawakannya, sehingga jumlah mereka semakin meningkat, yang berikutnya akan berdampak pada bertambahnya pemasang iklan di radio tersebut. Ujung-ujungnya, radio itu akan semakin besar dan kesejahteraan karyawannya akan semakin meningkat.


Dari ke dua contoh tadi bisa disimpulkan kualitas penyiar adalah salah satu hal terpenting – di samping juga kualitas marketing, administrasi dan posisi yang lain di radio bersangkutan - yang menentukan bagus tidaknya prospek perusahaan di masa depan, termasuk prospek penyiar itu sendiri


Kembali ke pertanyaan di awal, kalau begitu, sebenarnya masih bagus tidak sih prospek profesi penyiar ? Jawabannya : BAGUS. Tergantung di stasiun radio mana dan radio seperti apa tempat dia bekerja. Kalau stasiun radionya besar, incomenya bagus, tentunya penghargaan terhadap karyawannya harus lebih bagus dibanding yang lain. Apapun itu perusahaannya. Masa’ sih perusahaan radio dengan income ratusan juta bahkan miliaran per bulan tidak mampu mensejahterakan penyiarnya ?


Kemudian, pertanyaan ke dua, apakah masih perlu pendidikan kepenyiaran itu ? Jawabnya tentu saja , masih perlu dan sangat perlu. Bagaimana seorang calon penyiar maupun penyiar bisa bersaing untuk meraih prestasi bahkan meningkatkan jumlah pendengar di radionya, kalau bekal yang dimilikinya hanya rata-rata atau di bawah rata-rata ? Semua stasiun radio pasti menginginkan mempunyai seorang penyiar yang berkualitas, creative dan punya kemampuan lebih dibanding yang lain. Tidak ada radio dengan income besar yang mempekerjakan penyiar yang tidak berkualitas. Nah, supaya penyiarnya yang berkualitas bisa tetap bertahan, tentunya dia harus berani membayar mahal untuk itu. Jadi, dalam hal ini, pendidikan kepenyiaran memang sangat diperlukan sekali bagi mereka yang ingin atau sudah terjun di dunia broadcat.


Berikutnya, timbul pertanyaan ke 3. Apakah ada jaminan setelah mengikuti kursus atau kependidikan kepenyiaraan seseorang lantas bisa otomatis diterima menjadi penyiar atau bisa berprestasi lebih dibanding penyiar yang lain ?


Jawabannya : Tidak ada jaminan. Semuanya kembali ke individu masing-masing.


Seperti juga halnya ribuan mahasiswa yang mengambil kuliah di perguruan tinggi, apakah ada jaminan setelah mereka lulus semuanya akan bisa diterima kerja sesuai jurusannya ? Tentu juga tidak ada. Yang penting adalah mereka telah diberi bekal yang cukup, baik secara teori maupun praktek, sehingga peluang mereka untuk sukses jauh lebih besar dibanding mereka yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai.

Begitu juga di pendidikan kepenyiaran. Peserta akan dibekali pengetahuan mengenai ilmu komunikasi, utamanya di dunia kepenyiaran, baik secara teori maupun praktek, yang akan membuat mereka jauh lebih siap untuk memasuki dunia kerja, tidak hanya di radio tetapi juga di tempat lain.


Kok bisa di tempat lain ? Ya, karena dengan bekal kemampuan mereka di bidang komunikasi tentunya akan sangat menunjang sekali dalam menempuh perjalanan studi maupun karir mereka. Yang pasti keberanian untuk berbicara akan meningkat, begitu pula rasa percaya diri, wawasan, dan lain sebagainya. Bahkan tidak sedikit yang bisa berkarir sebagai presenter di televisi. Hal ini bisa terjadi karena mereka telah memiliki bekal yang cukup di dunia kepenyiaran radio, yang bisa dibilang sebagai basic dari segala ilmu kepenyiaran / broadcasting.


Jadi kesimpulannya, pendidikan kepenyiaran memang perlu dan penting, khususnya bagi mereka yang berminat untuk terjun sebagai penyiar ataupun yang sudah berprofesi sebagai penyiar. Tentunya kita harus jeli dan bijak dalam memilih lembaga pendidikan. Jangan sembarangan dalam memilih. Perlu diperhatikan misalnya dari aspek legalitas lembaga pendidikannya, kemudian kelengkapan fasilitas prakteknya, dan yang terpenting tenaga pengajarnya. Akan lebih baik apabila tenaga pengajarnya adalah praktisi yang sudah berpengalaman, baik secara teori maupun prakatek, bukan mereka yang baru 2-5 tahun menjadi penyiar.


Justru sekarang yang jadi masalah adalah apakah yang mereka yang berada di level atas manajemen sebuah perusahaan jasa penyiaran, entah itu sekedar pengelola atau bahkan owner, mau untuk memahami dan belajar secara mendalam tentang dunia kepenyiaran ? Ataukah mereka menganggap bisnis radio sama halnya seperti menjalankan bisnis yang lain, sehingga tidak perlu lagi untuk belajar dan memahami dunia kepenyiaran ?

Selasa, 11 Mei 2010

PROSPEK PENYIAR RADIO (Bag. 1)


Sampai saat ini, masih saja ada anggapan berkarir di dunia kepenyiaran, khususnya profesi penyiar radio, tidak memiliki prospek yang cerah. Sebagian orang masih menilai dengan paradigma lama bahwa bekerja sebagai penyiar hanyalah untuk hobby atau pengisi waktu saja. Profesi penyiar tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hidup. Gajinya kecil, masa depannya tidak jelas. Beberapa contoh di sekitar kita seolah membenarkan anggapan itu. Mereka yang dulunya bekerja sebagai penyiar, akhirnya harus melepaskan profesi itu untuk berkarir di pekerjaan lain yang lebih “menjanjikan”. Sementara mereka yang masih tetap memegang teguh profesinya sebagai penyiar radio, nampaknya harus hidup begitu-begitu saja.


Namun di sisi lain, tidak sedikit anak-anak muda, khususnya lulusan SMU dan kalangan mahasiswa, yang tetap tertarik dengan profesi ini, walaupun setelah lulus kuliah banyak diantara mereka yang akhirnya memilih untuk mencari pekerjaan yang lain. Profesi penyiar seolah hanya dipakai sebagai batu loncatan saja. Ibaratnya, itung-itung cari pengalaman atau minimal untuk nunut ngetop.


Ini kemudian memunculkan pertanyaan, untuk apa orang harus bayar mahal mengikuti pendidikan / kursus kepenyiaran, kalau profesi penyiar tidak memiliki prospek yang bagus ? Apakah memang masih diperlukan pendidikan kepenyiaran itu ?


Kalau kita mau melihat secara jeli, factor yang membuat profesi penyiar seolah kurang menjanjikan dibandingkan profesi yang lain sebenarnya bukan terletak pada profesinya itu sendiri, tetapi factor lain di luar dan di dalam diri pribadi penyiar itu.


Yang dimaksud factor di luar penyiar adalah kebijakan perusahaan tempat di mana penyiar itu bekerja. Seperti juga mereka yang bekerja di perusahaan lain, semakin besar suatu perusahaan sudah sewajarnya semakin bagus kesejahteraan yang diberikan kepada karyawannya. Normalnya begitu.


Nah, sekarang tinggal dilihat, apakah stasiun radio tempat penyiar itu bekerja termasuk perusahaan yang sudah besar dan sehat secara financial atau perusahaan yang masih baru berdiri (ataupun sudah lama berdiri) tapi masih belum sehat kondisi keuangannya ?


Kalau ternyata stasiun radio tersebut sudah lama berdiri dan sehat secara financial, sudah sewajarnya karyawan yang bekerja di dalamnya, termasuk penyiarnya, mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik. Apalagi seiring dengan pertumbuhan perusahaan yang makin besar, dengan bertambahnya divisi maupun bidang usaha baru yang masih berkaitan dengan dunia broadcast, semakin besar pula peluang seorang penyiar untuk menaiki jenjang yang lebih tinggi lagi. Misalnya dari penyiar part time menjadi full time, naik lagi penyiar senior, menjadi produser acara, program director ataupun General Manager dan seterusnya.


Sebaliknya, kalau stasiun radio tersebut belum sehat secara financial, wajar saja kalau kesejahteraan yang diberikan kepada penyiarnya masih belum begitu bagus. Darimana perusahaan bisa membayar karyawannya kalau pemasukan iklan tidak meningkat bahkan cenderung turun tiap bulannya ? Seperti kita tahu, sumber pemasukan utama sebuah stasiun radio, dalam hal ini radio swasta, adalah dari iklan. Kalau iklan yang masuk sedikit atau bahkan tidak ada, tentunya stasiun radio itu tak akan mampu memberikan kesejahteraan yang layak bagi para karyawannya, termasuk penyiar yang bekerja di dalamnya.


Sedangkan yang ke dua adalah factor internal dari individu penyiar itu sendiri. Profesi apapun, di perusahaan manapun, dituntut kecakapan dan prestasi yang lebih baik. Semakin baik prestasi seorang karyawan, semakin besar peluangnya untuk naik gaji, naik pangkat atau mendapatkan kompensasi lebih dari perusahaan. Sementara mereka yang biasa-biasa saja, atau tidak berprestasi sama sekali, kecil peluangnya untuk mendapatkan promosi yang lebih baik dari perusahaan. Akibatnya, kesejahteraannya begitu-begitu saja, dan masa depannya menjadi suram.


Begitu pula perusahaan yang bergerak di bidang radio swasta. Apabila penyiarnya tidak mampu meningkatkan ketrampilan, kreativitas dan hal-hal lainnya sebagai seorang penyiar professional, jangan salahkan kalau perusahaan tidak memberikan penghargaan yang layak bagi dirinya.


Bersambung...

Senin, 10 Mei 2010

PENDENGAR BUKAN RAJA, TAPI SAHABATMU


“Dalam dunia bisnis, bagi seorang penjual yang sedang melayani komsumen, pelanggan adalah raja. Dalam dunia radio, bagi seorang penyiar yang sedang bertugas, pendengar adalah sahabat terdekatnya. Seorang sahabat tak akan menyakiti sahabatnya. Seorang sahabat akan melayani dengan sepenuh hati. Maka, jangan sakiti sahabatmu dengan ketidakpedulianmu. Jangan abaikan dia dengan ego pribadimu”.


Beberapa waktu lalu, saya mendapati alamat streaming on-line sebuah stasiun radio di luar kota melalui Facebook. Dengan rasa penasaran saya coba mendengarkan siaran radio tersebut melalui internet.


Kualitas audionya lumayan bagus. Jaringannya juga oke. Siarannya tidak terputus-putus. Saya pun bergabung menjadi fans radio ini di Facebook.


Dari status yang terdapat di Dindingnya, nampaknya setiap pergantian acara para penyiarnya meng-update status acara berikutnya. Status terakhir yang terdapat di dindingnya menginformasikan penyiar akan siaran selama 2 jam sampai tengah malam dengan lagu-lagu yang kebetulan mayoritas kesukaan saya.


Sebagai rasa simpati, saya coba kirimkan comment ke status yang baru saja di update oleh si penyiar. Saya juga request lagu kesukaan, dengan catatan kalau memang aturan main memperbolehkan. Kalau tidak juga gak papa, karena saat itu memang bukan acara request lagu. Yang penting comment saya dibaca.


Menit berganti menit, jam berganti jam. Sampai acara hampir usai ternyata lagu saya tidak nongol sedikitpun. Parahnya lagi, penyiar juga tidak menyapa nama saya sama sekali. Dia malah menyapa nama-nama yang lain. Padahal saya sudah menunggu hampir 2 jam sampai terkantuk-kantuk.


Penasaran, saya buka lagi halaman Facebook radio tersebut. Mengejutkan sekali. Ternyata hanya 2 orang yang memberi comment di dindingnya. Saya dan seorang lain yang sekota dengan radio itu. Komment orang itu sudah dibaca oleh si penyiar, sedangkan punya saya sama sekali tidak terbaca.. Bahkan balasan comment di Facebook pun juga tidak. Padahal waktu pengirimannya lebih duluan saya 1 jam


Entah mengapa, malam itu saya merasa kesal sekali diperlakukan seperti itu. Bagi saya penyiar itu sudah bertindak sangat egois sekali. Memang benar acara yang dia bawakan bukan acara request atau salam-salaman. Tapi apa susahnya sih sekedar “menyapa” nama pendengarnya yang sudah rela malam-malam menghabiskan pulsa speedy selama 2 jam ? Mengapa berat sekali untuk sekedar memberi perhatian kepada pendengar barunya ? Lantas untuk apa fasiltias streaming on-linenya ? Untuk apa menulis status di Facebook kalau malas mengomentari ? Padahal tidak butuh lebih dari 30 detik untuk sekedar “say hello” dan “say thank you” kepada pendengarnya.


Bukankah pendegar adalah sahabatmu, bukan seorang raja yang menyuruh-nyuruhmu ?

Selasa, 04 Mei 2010

MENGAPA (WAKTU ITU) BERGABUNG DI RADIO (LAGI) ? (MEMAJUKAN DIRI 2)



Ada beberapa teman yang menanyakan ke saya beberapa hari lalu, mengapa setelah sempat vakum selama kurang lebih 2,5 tahun dari dunia radio, kok saya akhirnya mau kembali lagi bergabung di radio awal 2007.


Jawabannya : karena saya memang tidak pernah (bisa) meninggalkan dunia radio sama sekali selama 2 tahun itu. Saya tetap aktif mengajar di salah satu kursus kepenyiaran radio di kota Malang. Saya juga tetap aktif menjadi “pendengar” dan “pengamat” radio di manapun saya berada. (Hhmm, bagaimana ya mengamati radio ? Radio kan untuk didengar ? Mungkin lebih tepatnya “penguping”, ya ?)


Jawaban kedua : karena saat itu saya ditawari untuk membantu mengelola sebuah radio baru milik pengusaha yang saat itu sedang melakukan siaran percobaan di kota Malang. Namanya radio Kencana FM.


Jujur saja, pada awalnya, saya tidak terlalu antusias menerima tawaran ini. Pertama, karena di Malang sudah terlalu banyak stasiun radio. Untuk kota sekecil Malang, jumlah 30 radio (termasuk radio komunitas dan radio “gelap”) sudah terlalu banyak. Kedua, format musik yang dipilih radio Kencana adalah lagu popular Indonesia (non dangdut, campursari dan keroncong).Ini bisa dianggap sebagai “kelebihan”, tapi bisa juga sebagai suatu “kelemahan”.


“Kelebihan” karena belum banyak radio di Malang yang berformat total musik pop Indonesia. Hanya ada satu-dua. Salah satunya, waktu itu, adalah radio Andalus FM. Radio yang sudah berusia 30 tahun lebih ini, di saat yang hampir bersamaan baru saja merubah formatnya menjadi radio dengan slogan Barometer Musik Indonesia.


Memang, dengan berformat full musik Indonesia akan relative lebih mudah bagi sebuah radio untuk meraih jumlah pendengar lebih banyak, khususnya di kota Malang. Apalagi lagu-lagu Indonesia sudah semakin variatif dan relative berkualitas. Ada kans cukup besar untuk merebut simpati pecinta musik Indonesia di kota pelajar ini.


Sedangkan “kelemahannya”, dengan cuma mengandalkan lagu-lagu pop Indonesia, berarti “amunisi” radio menjadi terbatas. Untuk meraih pendengar dari segment menengah ke atas, terasa “nanggung”. Pendengar dengan segment ini sudah lebih dahulu dimanjakan oleh radio-radio lain, yang tidak hanya menyajikan musik Indonesia tetapi juga lagu-lagu mancanagera (Barat). Jumlahnya lebih dari 5 radio.


Sebaliknya, untuk meraih pendengar dari segment menengah ke bawah, juga “nanggung”. Tanpa adanya program lagu dangdut dan campursari misalnya, cukup berat untuk bisa bersaing dengan radio-radio yang sudah terlebih dahulu bermain di segment ini.


Alasan kedua mengapa saya tidak terlalu tertarik dengan tawaran itu karena radio Kencana sudah “dikelola” sebuah lembaga yang orang-orangnya adalah “guru-guru” saya di dunia radio. Terus terang, saya merasa “enggak enak”. Apalagi kehadiran saya adalah untuk “menggantikan” mereka. Mereka inilah yang “babat alas” ketika mendirikan radio Kencana. Mereka sudah cukup lama malang melintang di dunia broadcat. Bahkan salah seorang diantaranya adalah mantan penyiar kondang di kota Malang yang saya kagumi sejak puluhan tahun silam. Beliau secara tidak langsung adalah “suhu” saya. Untuk urusan dunia broadcast, saya banyak termotivasi dari dia. Beliaulah yang membuat saya menjadi begitu bangga dan mencintai dunia radio. (Cerita mengenai “guru-guru” saya ini akan saya ceritakan di tulisan yang lain).


Dengan beberapa alasan tadi, ditambah dengan kesibukan saya, baik sebagai pemilik usaha toko cokelat Silvia n’ Joe Chocolate maupun pengajar di kursus penyiar Duta Suara, membuat saya ragu untuk menerima tawaran pemilik radio Kencana.


Namun, akhirnya pihak owner berhasil meyakinkan saya bahwa kerjasama dengan konsultan itu akan berakhir bulan depan. Itulah alasannya, mengapa mereka minta tolong saya untuk membantu “meneruskan” beroperasinya radio Kencana FM.


Yah, mungkin inilah yang disebut sebagai “panggilan jiwa”. Melihat ada peluang untuk membenahi penyiar dan program di radio Kencana dan adanya keinginan untuk memberikan sesuatu yang “benar-benar bermanfaat” bagi pendengar radio, saya pun mulai mempertimbangkan menerima tawaran itu. Sama sekali bukan karena alasan salary ataupun jabatan.


Apalagi ternyata salah satu crew yang menjadi perintis berdirinya radio itu adalah teman saya juga yang pernah bekerja di radio yang sama beberapa tahun sebelumnya. Dia pun pernah bergabung di beberapa radio di kota Malang. Bagi saya, ini tentu akan memudahkan terjadinya kerjasama team untuk melakukan berbagai pembenahan bagi kemajuan radio yang belum resmi mengudara itu.


Mengamati begitu ketatnya persaingan antar radio di kota Malang, saya pun memberi masukan kepada owner untuk membuat program yang berbeda dengan radio lain, dengan content yang “benar-benar dibutuhkan” masyarakat. Intinya, jangan cuma sekedar tampil dengan lagu-lagu Indonesia dan gosip-gosip artis atau sejenisnya, karena sudah banyak radio yang punya program seperti itu.


Lalu, program seperti apakah yang belum digarap khusus oleh radio lain, tetapi selalu dibutuhkan masyarakat tanpa ada habisnya ? Masih adakah peluangnya ?


Ternyata, ada. Saya mengamati kebutuhan orang akan informasi peluang kerja maupun peluang berwirausaha selalu meningkat setiap tahun. Kalau di media cetak, sudah cukup banyak yang menggarap secara khusus pasar ini. Namun di radio, masih belum maksimal tercover, khususnya di kota Malang. Padahal 2 hal inilah yang selalu dicari orang sepanjang hidupnya dan tiada habisnya.


Oleh karena itulah saya mengusulkan agar arah siaran radio Kencana ditujukan kepada mereka para pencari kerja dan pewirausaha. Semua informasi yang tersaji, mulai pagi sampai tengah malam, harus yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan mereka.


Seperti kita ketahui, di kota Malang jumlah pelajar dan mahasiswanya sangat banyak. Mereka adalah para calon dan pencari kerja yang jumlahnya akan terus bertambah setiap tahun. Begitu pula dengan para calon dan wirausahawan. Trend untuk menjadi wirausahawan dari tahun ke tahun juga semakin meningkat disebabkan semakin menyempitnya lowongan kerja bagi para pencari kerja. Tentunya ini potensi pasar yang sangat menjanjikan yang bisa digarap oleh Radio Kencana.


Akhirnya, setelah terjadi beberapa kali pertemuan dan negosiasi dengan pemilik serta GM Radio Kencana, per February 2007 saya tercatat resmi bergabung menjadi Program Director sekaligus penyiar di radio Kencana FM, yang berfrekwensi di 98,6 Mhz.


Dan sampai detik ini, walaupun sudah tidak bekerja di radio Kencana lagi, saya merasa bahagia dan bangga pernah menjadi bagian dari sebuah radio yang secara riil begitu bermanfaat bagi masyarakat Malang dan sekitarnya.


Setahu saya, baru radio Kencana inilah satu-satunya radio di kota Malang, yang di ulang tahun pertamanya berhasil menggelar event dengan pencatatan rekor pengumpulan dana sedekah dari pendengar untuk membantu kaum dhuafa sebesar lebih dari Rp. 600.000.0000 (baca : 600 juta) lebih ! Hanya dalam waktu 5 hari saja ! Dana ini 100 % telah disalurkan ke berbagai lembaga amil zakat, pembangunan sekolah, pesantren dan kaum dhuafa di seputaran Malang Raya dan sekitarnya. Termasuk untuk membantu membayar biaya operasi, pengobatan dan rawat inap para pasien tak mampu di rumah sakit-rumah sakit di Malang.


Ini semua tidak mungkin bisa terwujud kalau bukan karena peran serta dari pendengar, pemasang iklan, termasuk juga seluruh crew dan pihak manajemen Radio Kencana yang begitu luar biasa sekali dalam mewujudkan visi dari radio Kencana, yaitu menjadi radio yang terdepan dalam mensejahterakan masyarakat.


Dan tentu saja, yang terpenting, kebijakan dan peran serta dari pemilik (owner) radio, menjadi factor utama keberhasilan suatu program yang dijalankan dalam bisnis jasa radio siaran. Sebagus apapun suatu program direncanakan, seluar biasa dan sekompak apapun team di sebuah radio, kalau pemilik radio tidak mau memahami karakter bisnis radio apalagi tidak memberi dukungan maksimal, radio itu tidak akan menjadi apa-apa. Radio itu akan tetap begitu-begitu saja.


Dan pemilik Radio Kencana membuktikan, walaupun baru setahun beroperasi, radio ini telah mampu menjadi radio yang dipercaya oleh masyarakat pendengarnya, termasuk para pemasang iklan dan para narasumber yang pernah berpartisipasi di dalamnya.

Sabtu, 23 Mei 2009

MEMAJUKAN DIRI (1)

Dalam kurun waktu 17 tahun di dunia broadcast, saya sempat mengalami “kevacuuman” dari dunia radio selama 2,5 tahun, sebelum akhirnya bergabung di radio yang sekarang , radio Kencana FM.

Sebetulnya tidak tepat kalau dikatakan benar-benar vacuum. Karena toh hampir tiap hari, sejak saya resign dari Radio Makobu FM bulan Juni 2004 sampai awal tahun 2007, saya tetap disibukkan dengan aktivitas mengajar di salah satu lembaga kursus penyiar radio di kota Malang. Disamping itu, keberminatan (kepedulian) terhadap dunia radio membuat saya tak pernah bisa lepas dari kegiatan mendengar berbagai radio yang ada di kota Malang maupun di kota-kota yang kebetulan saya singgahi saat bepergian. Aktivitas ini sudah yang saya lakukan sejak masih duduk di bangku SD !

Tapi, mengapa tiba-tiba waktu itu saya berani memutuskan untuk meninggalkan dunia radio yang sudah mendarah daging sejak usia belasan tahun ini ?

Banyak sekali factor yang melatar belakangi keputusan itu. Salah satu diantaranya adalah munculnya perbedaan prinsip yang tidak memungkinkan bagi saya untuk meneruskan kerjasama dengan radio bersangkutan. Saya tidak perlu menyebutkan perbedaan prinsip macam apa itu, tetapi itu menyangkut berbagai hal.

Memang, perbedaan itu wajar dan sah-sah saja. Tapi, kalau perbedaan itu membuat kita merasa tidak nyaman, sementara berbagai cara yang ditempuh untuk menyatukan perbedaan itu tak berhasil dilakukan, tentu harus ada sikap yang dipilih.

Saat itu saya memilih sikap untuk resign dari radio yang sudah 7 tahun menjadi bagian dari mimpi dan hidup saya.

Menyesal ?

Tidak.

Karena ada satu lagi alasan yang membuat saya berbahagia dengan keputusan itu.

Apakah itu ?

Mimpi saya untuk menjadi seorang entrepreneur bakal menjadi kenyataan.

Barangkali inilah mimpi ke dua saya setelah mimpi pertama menjadi kenyataan.

Mimpi atau cita-cita pertama saya sejak SMU adalah menjadi penyiar radio. Mimpi itu tak pernah lepas dari kehidupan saya. Dari hari ke hari, tahun ke tahun mimpi itu semakin menguat. Tak sedikitpun mimpi itu bergeser dari pikiran saya. Saya begitu merindukan sekali saat-saat mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Dan semuanya akhirnya mulai terwujud justru setelah saya lulus kuliah di tahun 1992.

Seiring dengan perjalanan waktu, 5 tahun setelah mimpi pertama saya terwujud, tiba-tiba “virus” entrepreneurship menyerang otak dan seluruh aliran darah saya. Keinginan untuk menjadi “orang bebas” kian lama kian menguat. Berbagai buku dan seminar tentang wirausaha menjadi makanan wajib bagi saya. Namun itu tak cukup kuat untuk membuat saya mengambil keputusan untuk banting setir menjadi wirausahawan. Saya masih tetap menikmati posisi sebagai penyiar di radio.

Baru setelah memasuki tahun ke 12, keinginan untuk menjadi wirausahawan kembali menyeruak. Perbedaan prinsip dan situasi kerja yang tidak mendukung untuk tetap bertahan, membuat keputusan harus diambil.

Tanggal 1 Juni 2004 saya resmi sudah tidak tercatat sebagai Program Director dan penyiar di radio Makobu FM, meninggalkan semua kenangan dan mimpi indah yang sudah terajut selama 7 tahun.

Seperti kata Mario Teguh : saya sudah resmi “memajukan diri” - bukan mengundurkan diri-, untuk mengejar mimpi yang baru, tentunya.