Tampilkan postingan dengan label ADLIB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADLIB. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

PENGULANGAN INFO WAKTU TAYANG DI PROMO ACARA

Promo acara bagi sebuah program di radio merupakan hal yang sangat penting.

Ibaratnya, ia sebagai alat pengingat, “woro-woro” atau pengumuman bagi pendengar yang belum tahu atau barangkali lupa dengan keberadaan program tersebut.

Sayangnya, tidak jarang pengelola program kurang maksimal dalam pembuatannya.

Yang seringkali terjadi, promo acara terlalu panjang dan detail sehingga malah membuat pendengar dibebani informasi terlalu panjang.  

Pembuat promo lupa bahwa radio bersifat selintas dan anti detail. Apabila yang disampaikan terlalu panjang dan rinci, justru malah akan menyulitkan pendengar untuk mengingat informasi yang baru saja ia dengar.  

Idealnya promo acara di radio berdurasi maksimal 1 menit saja.

Itupun cukup point terpenting dari program yang dipromokan. Bisa dalam bentuk narasi yang disampaikan oleh penyiar, baik dalam bentuk rekaman atau  live, atau bisa juga cuplikan dari acara tersebut. Biasanya yang terakhir ini (cuplikan / dummy acara) jauh lebih efektif dan mudah diingat oleh pendengar.

Hal kedua, yang kadang terabaikan saat pembuatan promo acara juga masih berkaitan dengan sifat radio yang selintas.

Masalah pengulangan informasi  jadwal waktu tayang acara.

Ya, pengulangan.

Tidak hanya satu-dua kali, kita mungkin pernah mengalami kejadian ketika mendengar sebuah promo program yang sangat menarik, ternyata di akhir promo kita baru tersadar belum mencatat atau mengingat di memori kita kapan waktu penayangan program itu.

Bukannya si pembuat promo tidak menyebutkan waktunya. Ia mungkin sudah menginformasikan itu di awal promo. Tapi ia terlupa untuk mengulang kembali informasi waktu tayangnya di bagian akhir promo.

Jangan lupa,  bisa jadi pendengar saat di awal-awal masih konsentrasi dengan isi atau gambaran dari acara yang sedang dipromosikan atau barangkali ia belum mendengarkan  atau konsentrasi dari awal. Sehingga ketika jadwal waktu penayangan hanya disampaikan di awal, pendengar masih belum 100 persen “ngeh”, bahasa Jawanya.

Oleh karena, tidak ada salahnya, untuk mengulang kembali informasi jadwal waktu penayangan program yang sedang dipromokan di bagian akhir dari promo acara. Sehingga tidak akan terjadi pendengar sampai  “ngedumel” baik di dalam hati mapun terucap, karena belum sempat mencatat atau mengingat kapan waktu penayangan acara yang dia tunggu-tunggu tadi

Bagaimana menurut anda ?

Selasa, 31 Mei 2011

Penyiar Senior Ga’ Bisa Baca Adlib - Sebuah Catatan Lama dr Blog Saya di Friendster (25 Juni 2006)

Kabar akan "ditamatkannya" Friendster akhir bulan ini membuat saya tiba-tiba tergerak untuk menengok situs jaringan pertemanan yg pernah begitu populer di Indonesia beberapa tahun silam. Sejak terjadi perselingkuhan antara saya dengan Facebook 3 tahun lalu, halaman pribadi saya di Friendster memang tak pernah sekalipun saya nafkahi lahir dan batin.


Nah, di saat asyik bernostalgia dengan foto-foto dan testimoni di FS, saya menemukan beberapa catatan yang pernah saya tulis di blog milik Friendster. Semuanya berkaitan dengan dunia broadcasting. Beberapa catatan lama saya memang terasa agak pedas dan banyak mengkritik kondisi peradioan di masa itu. Gaya bahasanya pun cenderung lebih informal. Tapi mengingat umur Friendster yang tinggal beberapa jam lagi, rasanya sayang kalau saya biarkan tulisan itu ikut musnah. Oleh karenanya, mulai edisi kali ini saya akan coba tampilkan beberapa catatan yang pernah saya tulis di blognya Friendster. Mohon maaf kalau bahasanya barangkali terasa terlalu "kasar". Maklum, itu tulisan 5 tahun yg lalu...hehehe. Selamat menikmati, semoga bermanfaat.
(Foto : http://www.archives.gov.on.ca/english/on-line-exhibits/st-lawrence/pics/4392_30_loyalty1_720.jpg)

Senior ternyata bukan jaminan seorang penyiar bisa lebih baik dari yang junior. Bahkan untuk urusan yang harusnya udah jadi standard, belum tentu yang senior bisa lebih jago.


Baru-baru ini ga’ sengaja saya dengar siaran penyiar senior yang udah lebih dari 30 tahun malang melintang di radio di kota Malang. Acaranya dari dulu ga’ pernah yang lain kecuali dangdut. Pada masa itu namanya ngetop sekali. Tanyain aja orang-orang di pasar atau pelosok-pelosok kampung, 90% pasti mengenalnya.


Suaranya khas banget, powerful, tapi cempreng, apalagi kalo pas ketawa. Saya jadi ga’ bisa lupa suaranya gara-gara kekhasannya itu. Pokoke nyebelin pooouul, ngangenin…sekaligus kudu mbuaanting radioku….he he he…(yang terakhir ‘agak’ becanda kok)….!!???


Format siarannya dari dulu sampe sekarang hampir ga’ berubah : baca request, salam-salam dari pendengarnya pake nama dan alamat samaran yang aneh-aneh, mis. Putri Malu di Pondok Kerinduan(…..iiihh…tidaaaak), ditambah baca pantun buatan mereka. Pokoke dari radionya masih AM sampai FM, dari request masih pake kupon yang harus bayar sampai yang sekarang udah bisa langsung on-air by phone, acara nya yaaa tetep sama…. Baca request, trus putar lagu dangdut… Puluhan tahun kayak begitu.


Nah, kemarin ga’sengaja saya dengar caranya baca adlib …Ooh my God…saya bener-bener ga’nyangka and surprise. Ternyata masih bagusan murid saya di Kursus Penyiar Duta Suara. Swear !! Cara penyiar ini baca iklan persis kayak membaca. Sekali lagi MEMBACA. Bukan gaya siaran KOMUNIKATIF, tapi…belajar membaca. Sampai saya ga’ habis pikir, apa orang ini ga’ pernah ikutan diklat PRSSNI, padahal radionya tercatat sebagai anggota. Atau ni penyiar ga’ sempat belajar gimana cara baca naskah siaran/adlip yang baik dan benar saking sibuknya siaran (???). Atau beliau udah merasa jauh lebih senior (pintar) dari yang junior ? Atau beliau, bahkan si pengelola radio, merasa itu bukanlah hal yang penting ??? Terus gimana si penyiar senior bisa jadi panutan penyiar-penyiar muda lainnya ? Lebih jauh lagi, gimana radionya bisa bersaing sama yang lain ????


Waaahh…ternyata ga’ gampang ya jadi penyiar radio….Yang senior belum tentu bisa lebih baik. Keahlian harus terus diolah dengan belajar, berlatih, belajar berlatih dan begitu seterusnya ….tanpa henti.


Yok opo menurutmu rek ?