Beberapa waktu yg lalu, salah seorang kawan mengeluhkan tentang radio (dan penyiarnya) yang
“pelit” memberikan informasi judul lagu dan nama penyanyi yang baru saja
diputar.
“Apa sih susahnya kasih tahu judul lagu dan nama penyanyinya
? Memangnya kita semua tahu dan masih ingat
judul lagu itu?” begitu ia menulis di status FBnya saat mendengar siaran sebuah
radio on line di Indonesia.
Apa yang teman saya rasakan pasti juga pernah anda rasakan, karena saya pun
juga sering merasakan hal yang sama.
Bisa dimaklumi
kalau saat itu acaranya berupa news. Tapi
yang sedang kawan saya dengar bukan program news. Acaranya hiburan biasa. Putar
lagu diseling beberapa infomasi ringan.
Saya menduga-duga, apakah mungkin si penyiar beranggapan menyampaikan judul lagu
dan nama penyanyi bukan bagian dari
menyampaikan informasi kepada pendengar ?
Atau ia anggap
semua pendengarnya seperti dirinya, pasti tahu dan ingat apa lagu yang baru
saja ia putar ?
Atau ia
menganggap tidak penting informasi itu ? –kalau begitu apa perlunya juga dia
putar lagu tidak penting itu ?
Atau, si penyiar
beralasan bahwa itu memang kebijakan manajemen radionya ?
Hhhmm... dugaan
saya, jangan-jangan ini hanya masalah penyiar yang kurang kreatif dalam menyikapi
sebuah kebijakan.
Yang saya tahu, penyiar radio memang tidak boleh monoton saat bersiaran. Dia harus pandai-pandai mengolah kata sehingga
apa yang disampaikan tidak membosankan.
Jangan setiap kali “talk”, ia ngomong yang itu-itu saja.
Berarti, apa tidak boleh setiap kali “talk” menyebutkan judul lagu ?
Menurut saya, boleh-boleh saja, asal susunan kalimatnya,termasuk pilihan kata-katanya, jangan sama terus
menerus.
Misalnya setelah memutar
lagu pertama ia mengatakan, “Itulah tadi lagu dari Marcel, Tak Terganti..bla la
bla.”
Berikutnya, setelah
lagu ke 2, ia kembali menyampaikan, “ Itulah tadi lagu dari Kahitna, Tak
Sebebas Merpati.”
Nah, yang begini ini jelas terdengar sangat monoton dan membosankan. Mestinya si penyiar bisa menyiasati dengan
sedikit merubah susunan kalimatnya atau menambahi dengan informasi berkatian
dengan lagu maupun penyanyinya.
Misalnya, setelah lagu pertama ia bicara begini, “Tak Terganti dari Marcel, saya
yakin membuat anda tetap betah untuk meneruskan bergabung di program ini, dan
tidakmengganti ke channel radio lain bla.,...bla....”
Setelah lagu ke
2, “Apakah memang setiap orang yang akan menikah merasakan seperti yg dirasakan
Kahitna ya, menjadi Tak sebebas merpati ? Atau cuma si Yovie yang merasa Tak
Sebebas Merpati ? bla...bla... bla....”
Saya yakin,
menyebutkan judul lagu dan nama penyanyi di setiap talk, di program yang bukan
News, tidak akan mengganggu kenikmatan pendengar dalam menyimak sebuah acara di
radio. Juga tidak ada ruginya bagi stasiun radio bersangkutan.
Justru ini akan
memberi nilai plus bagi si penyiar dan stasiun radio karena lambat laun akan
tertanam di benak pendengar bahwa setiap mendengar radio tersebut pendengar akan
bisa selalu mendapat informasi yang komplit sampai ke urusan lagu, yang nampaknya
saat ini mulai diabaikan atau ditinggalkan penyiar dan radio-radio lain.
Bandingkan dengan
kebanyakan radio di luar negeri yang sudah memanfaatkan fasilitas
streaming untuk menyampaikan informasi lagu yang sedang diputar.
Kita akan dengan
mudah mendapatkan informasi judul lagu dan nama penyanyinya terpampang di layar
radio player saat lagu itu sedang terputar.
Sedangkan radio
streaming di Indonesia ?
Masih bisa
dihitung dengan jari yang melakukan hal yang sama. Kebanyakan hanya menampilkan
nama radionya saja.
Padahal dengan
menyebutkan atau menuliskan judul lagu dan nama penyanyi juga merupakan bagian
dari menghargai suatu karya seni yang nyata-nyata setiap hari dimanfaatkan oleh
sebuah stasiun radio.
Promo acara bagi sebuah program di radio merupakan hal yang
sangat penting.
Ibaratnya, ia sebagai alat pengingat, “woro-woro” atau pengumuman
bagi pendengar yang belum tahu atau barangkali lupa dengan keberadaan program tersebut.
Sayangnya, tidak jarang pengelola program kurang maksimal dalam
pembuatannya.
Yang seringkali terjadi, promo acara terlalu panjang dan
detail sehingga malah membuat pendengar dibebani informasi terlalu panjang.
Pembuat promo lupa bahwa radio bersifat selintas dan anti
detail. Apabila yang disampaikan terlalu panjang dan rinci, justru malah akan
menyulitkan pendengar untuk mengingat informasi yang baru saja ia dengar.
Idealnya promo acara di radio berdurasi maksimal 1 menit
saja.
Itupun cukup point terpenting dari program yang dipromokan.
Bisa dalam bentuk narasi yang disampaikan oleh penyiar, baik dalam bentuk rekaman
atau live, atau bisa juga cuplikan dari
acara tersebut. Biasanya yang terakhir ini (cuplikan / dummy acara) jauh lebih
efektif dan mudah diingat oleh pendengar.
Hal kedua, yang kadang terabaikan saat pembuatan promo acara
juga masih berkaitan dengan sifat radio yang selintas.
Masalah pengulangan informasi jadwal waktu tayang acara.
Ya, pengulangan.
Tidak hanya satu-dua kali, kita mungkin pernah mengalami
kejadian ketika mendengar sebuah promo program yang sangat menarik, ternyata di
akhir promo kita baru tersadar belum mencatat atau mengingat di memori kita kapan
waktu penayangan program itu.
Bukannya si pembuat promo tidak menyebutkan waktunya. Ia mungkin
sudah menginformasikan itu di awal promo. Tapi ia terlupa untuk mengulang
kembali informasi waktu tayangnya di bagian akhir promo.
Jangan lupa, bisa
jadi pendengar saat di awal-awal masih konsentrasi dengan isi atau gambaran dari
acara yang sedang dipromosikan atau barangkali ia belum mendengarkan atau konsentrasi dari awal. Sehingga ketika
jadwal waktu penayangan hanya disampaikan di awal, pendengar masih belum 100
persen “ngeh”, bahasa Jawanya.
Oleh karena, tidak ada salahnya, untuk mengulang kembali informasi
jadwal waktu penayangan program yang sedang dipromokan di bagian akhir dari
promo acara. Sehingga tidak akan terjadi pendengar sampai “ngedumel” baik di dalam hati mapun terucap,
karena belum sempat mencatat atau mengingat kapan waktu penayangan acara yang
dia tunggu-tunggu tadi
Siapa yang tidak mengikuti perkembangan tekhnologi akan habis.
Demikian pendapat beberapa pakar bisnis dan komunikasi
mengomentari fenomena makin canggihnya tekhnologi
di dunia maya dan maraknya perkembangan jumlah pengguna media jejaring social.
Saya jadi teringat, kemarin tanggal 11 September diperingati sebagai Hari Radio di Indonesia.
Sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai hari lahir Radio Republik Indonesia. Namun tidak salah juga kalau ia diperingati
juga sebagai hari radio secara nasional, bukankah semua stasiun radio siaran
yang ada di Indonesia berawal dari kelahiran RRI ?
“Sekali di udara
tetap di udara” adalah semboyan yang sangat terkenal dan dibanggakan sekali.
Walaupun memang pada kenyataannya ada juga radio, termasuk beberapa
RRI di daerah, yang tidak konsisten dengan semboyan itu. Jam-jam tertentu tetap harus berada di “darat”
kembali.
Penghematan, alasannya.
Ya, tidak jadi masalah. Sebuah alasan yang sangat masuk di akal.
Nah, barangkali sekarang
yang perlu dipikirkan adalah “penambahan” slogan atau semangat baru.
Tidak hanya “sekali di udara tetap di udara” tapi juga “sekali
mengudara tetap on-air dan on-line”.
Mengapa begitu ?
Radio yang tidak memiliki fasilitas streaming online di Internet lambat laun diprediksi
akan semakin ditinggalkan pendengarnya.
Dunia yang semakin “menyempit” membuat orang dengan
mudahnya mendengarkan siaran radio yang ia suka dari berbagai belahan dunia hanya dengan sekali "klik".
Apalagi saat ini gadget dengan fasilitas yang canggih,
termasuk untuk mendengarkan siaran radio online sudah bukan barang yang asing dan malah bagi anak muda di Indonesia.
Ditunjang lagi dengan biaya pemakaian Internet yang semakin
hari semakin relative lebih murah.
Kalau sebuah stasiun radio masih merasa “nyaman” dengan tekhnologi
dan cara lamanya, lambat laun ia akan semakin “terhapus” dari pilihan
pendengarnya.
Dan bisa-bisa ramalan para pakar bisnis dan komunikasi akan
kehancuran sebuah bisnis yang gagap tekhnologi benar-benar akan terjadi 5-10
tahun mendatang
Jadi
mari tambahkan slogan dan semangat baru di dunia radio dengan buktikan “sekali
mengudara tetap on-air dan on-line”.
Saya pernah ditanya, berapa kali pernah melamar jadi penyiar. Saya jawab berkali-kali.
Berapa kali gagal ?
Berkali-kali .
Saya lupa tepatnya berapa kali secara keseluruhan. Seingat saya kurang lebih 4 atau 5 kali, atau bisa jadi malah lebih.
Pengalaman yang pertama kali ketika masih duduk di bangku SMA. Kalau tidak salah sekitar tahun 1987.
Saya sadar, pada masa itu memang sulit untuk bisa diterima bekerja di stasiun radio, apalagi bagi mereka yang masih duduk di bangku SMA. Masih belum “umum” anak SMA nyambi jadi penyiar radio. Biasanya ada persyaratan minimal harus sudah lulus SMA. – maka bersyukurlah mereka yang di hidup di jaman sekarang, di mana stasiun radio malah membikin program special bagi anak-anak SMA untuk menjadi penyiar tamu.
Nah, waktu itu saya mencoba mengirimkan surat lamaran ke salah satu radio anak muda terkemuka di kota Malang. Dengan harap-harap cemas saya dengarkan setiap hari pengumuman yang disiarkan di radio ini. Ternyata sampai berminggu-minggu dipanggil pun tidak.
Setelah lulus SMA saya mencoba kembali melamar posisi penyiar di radio favorit saya. Kebetulan saya banyak kenal dengan personil yang ada di radio tersebut. Mulai dari tukang sapunya, waktu itu belum popular istilah Office Boy, sampai direktur utama bahkan ownernya.
Lumayan. Saya lolos interview. Lha, memang semua penginterviewnya saya kenal. Hehehe…
Pada waktu itu, saya memang termasuk fans berat radio tersebut. Mereka yang di masa SMA pernah menjadi pendengar radio ini pasti sudah tidak asing dengan nama saya. Gak pagi, gak siang dan gak malam, nama saya sering disebut oleh penyiar dan disapa pendengar lain di program request lagu. Dulu istilah popluer untuk program request lagu adalah “attensi lagu” atau “salam-salaman”. Hehehe….
Tapi ternyata, untuk menjadi penyiar radio, modal kenal saja tidak cukup. Modal suara, termasuk tehnik mengolahnya seperti penguasaan intonasi dan aksentuasi, menjadi hal yang jauh lebih penting. Di masa itu saya sempat berpikir, barangkali profesi penyiar inilah satu di antara sedikit profesi di dunia yang relative aman dari KKN. Artinya, kalau memang tidak punya kemampuan, jangan harap bisa lolos menjadi penyiar biarpun punya kenalan orang dalam. Walaupun belakangan, saya dapati ternyata ada juga radio yang mau menerima penyiar baru, dengan kemampuan pas-pasan bahkan jauh dari standard, hanya karena hubungan kedekatan atau kekerabatan.
Nah, setelah mengikuti test vocal, saya dinyatakan tidak lolos. Nama saya tidak pernah disebut di pengumuman yang disiarkan tiap sore di radio bersangkutan. Rasanya kecewa banget. Apalagi radio itu sudah seperti menjadi bagian dari kehidupan saya. Semenjak masih duduk di kelas 1 SMA sampai lulus, saya hampir tidak pernah “absen” mendengarkan dan aktif berpartipasi di setiap programnya. Jadi bisa dibayangkan betapa kecewanya saya waktu itu.
Untunglah cita-cita saya menjadi penyiar tidak pernah kandas. Walaupun menemui kegagalan demi kegagalan, saya tidak pernah berhenti untuk belajar dari radio-radio yang saya dengar, di manapun saya berada. Hari-hari saya tidak pernah lepas dari mendengarkan radio. Beberapa interview untuk jadi penyiar juga tetap saya ikuti.
Akhirnya baru di tahun 1993 saya berhasil diterima menjadi penyiar radio untuk pertama kalinya.
Tau gak di radio apa ?
Ternyata di radio favorit saya dulu semasa SMA, yang saya pernah gagal ketika test tahun 1987.
6 tahun setelah upaya saya yang pertama di radio itu.
9 tahun setelah saya pernah menjadi fans setia di radio itu.
5 kali setelah saya gagal test jadi penyiar radio di mana-mana.
1 tahun setelah saya lulus sebagai sarjana bahasa Inggris di IKIP Malang.
Dan 1 bulan setelah saya lulus kursus penyiar Interstudi di Jakarta.
Ini adalah catatan lama saya di Blog Friendster pada bulan Mei 2006. Waktu itu salah satu radio di kota saya sedang mengalami "gonjang-ganjing". Kondisi ini memaksa manajemen untuk melakukan perampingan pada sejumlah karyawan. Diantaranya menimpa 2 orang kawan seperjuangan saya di dunia radio. Mendengar berita itu saya seakan bisa ikut merasakan kesedihan mereka. Semuanya saya curahkan lewat tulisan berikut ini, yang saya tulis 5 tahun yang lalu.
-----
Buat 2 orang kawan saya, hari ini tidak sama lagi seperti hari-hari kemarin…
Saat ribuan buruh di berbagai tempat di Indonesia memperingati Hari Buruh Internasional, 2 orang kawan saya harus menerima kenyataan pahit, di PHK dari pekerjaannya !
Di saat ribuan buruh menyuarakan harapan demi harapan demi masa depan yang lebih baik, 2 orang kawan saya digelapkan masa depannya !
Mimpi indah yang telah terajut sekian lama bersama orang-orang terkasih dan tersayang seakan hancur terburai tak berbentuk…
Tangisan si kecil yang tiap hari menjadi penghilang rasa letih, hari ini menjadi tangisan yang memerihkan hati….
Kawan, saat kau menjelang tidur tadi malam, tentu kau masih berharap ini semua hanya mimpi, dan besok pagi kau akan terbangun dari mimpimu.
Yah, pagi ini kau memang terbangun seperti biasa. Matahari masih bersinar hangat…Burung masih tetap berkicau… udara masih terasa segar.
Tapi kau … pasti tak bisa merasakan itu semua.
Hari ini begitu mendung, tak ada kicau burung, tak ada udara segar. Yang ada hanya gelap, sepi dan terasa menyesakkan di dada.
Tiada lagi kata : “Papa berangkat kerja dulu ya…” atau “ Papa pulaang…”
Mau berangkat ke mana…mau pulang ke mana ???
Tiada ke mana-mana.
Tiada lagi jalanan aspal yang perlu disusuri ke tempat kerja. Tiada lagi SMS kawan yang titip minta dibelikan makanan kecil untuk dibawa ke kantor. Tiada lagi kesibukan memencet tuts komputer, memilih lagu dan memutar lagu…
Tiada lagi pendengar yang selama ini menjadi spirit di tiap-tiap harinya yang bisa disapa lagi….
Semuanya hilang lenyap…
Hari ini dan esok jadi begitu berbeda dari hari-hari biasanya…
Harapan dan impian seakan musnah…
“Keep on fighting my friend…
Dunia masih terhampar luas buatmu.
Jemput rezeki dari Sang Maha Pemberi Rezeki.
Karena hanya Dialah sebenar-benarnya sang Maha Pemberi Rezeki.
Kabar akan "ditamatkannya" Friendster akhir bulan ini membuat saya tiba-tiba tergerak untuk menengok situs jaringan pertemanan yg pernah begitu populer di Indonesia beberapa tahun silam. Sejak terjadi perselingkuhan antara saya dengan Facebook 3 tahun lalu, halaman pribadi saya di Friendster memang tak pernah sekalipun saya nafkahi lahir dan batin.
Nah, di saat asyik bernostalgia dengan foto-foto dan testimoni di FS, saya menemukan beberapa catatan yang pernah saya tulis di blog milik Friendster. Semuanya berkaitan dengan dunia broadcasting. Beberapa catatan lama saya memang terasa agak pedas dan banyak mengkritik kondisi peradioan di masa itu. Gaya bahasanya pun cenderung lebih informal. Tapi mengingat umur Friendster yang tinggal beberapa jam lagi, rasanya sayang kalau saya biarkan tulisan itu ikut musnah. Oleh karenanya, mulai edisi kali ini saya akan coba tampilkan beberapa catatan yang pernah saya tulis di blognya Friendster. Mohon maaf kalau bahasanya barangkali terasa terlalu "kasar". Maklum, itu tulisan 5 tahun yg lalu...hehehe. Selamat menikmati, semoga bermanfaat.
Senior ternyata bukan jaminan seorang penyiar bisa lebih baik dari yang junior. Bahkan untuk urusan yang harusnya udah jadi standard, belum tentu yang senior bisa lebih jago.
Baru-baru ini ga’ sengaja saya dengar siaran penyiar senior yang udah lebih dari 30 tahun malang melintang di radio di kota Malang. Acaranya dari dulu ga’ pernah yang lain kecuali dangdut. Pada masa itu namanya ngetop sekali. Tanyain aja orang-orang di pasar atau pelosok-pelosok kampung, 90% pasti mengenalnya.
Suaranya khas banget, powerful, tapi cempreng, apalagi kalo pas ketawa. Saya jadi ga’ bisa lupa suaranya gara-gara kekhasannya itu. Pokoke nyebelin pooouul, ngangenin…sekaligus kudu mbuaanting radioku….he he he…(yang terakhir ‘agak’ becanda kok)….!!???
Format siarannya dari dulu sampe sekarang hampir ga’ berubah : baca request, salam-salam dari pendengarnya pake nama dan alamat samaran yang aneh-aneh, mis. Putri Malu di Pondok Kerinduan(…..iiihh…tidaaaak), ditambah baca pantun buatan mereka. Pokoke dari radionya masih AM sampai FM, dari request masih pake kupon yang harus bayar sampai yang sekarang udah bisa langsung on-air by phone, acara nya yaaa tetep sama…. Baca request, trus putar lagu dangdut… Puluhan tahun kayak begitu.
Nah, kemarin ga’sengaja saya dengar caranya baca adlib …Ooh my God…saya bener-bener ga’nyangka and surprise. Ternyata masih bagusan murid saya di Kursus Penyiar Duta Suara. Swear !! Cara penyiar ini baca iklan persis kayak membaca. Sekali lagi MEMBACA. Bukan gaya siaran KOMUNIKATIF, tapi…belajar membaca. Sampai saya ga’ habis pikir, apa orang ini ga’ pernah ikutan diklat PRSSNI, padahal radionya tercatat sebagai anggota. Atau ni penyiar ga’ sempat belajar gimana cara baca naskah siaran/adlip yang baik dan benar saking sibuknya siaran (???). Atau beliau udah merasa jauh lebih senior (pintar) dari yang junior ? Atau beliau, bahkan si pengelola radio, merasa itu bukanlah hal yang penting ??? Terus gimana si penyiar senior bisa jadi panutan penyiar-penyiar muda lainnya ? Lebih jauh lagi, gimana radionya bisa bersaing sama yang lain ????
Waaahh…ternyata ga’ gampang ya jadi penyiar radio….Yang senior belum tentu bisa lebih baik. Keahlian harus terus diolah dengan belajar, berlatih, belajar berlatih dan begitu seterusnya ….tanpa henti.
Melanjutkan tulisan yang kemarin, kedua factor eksternal maupun internal tersebut, harus bisa disikapi secara tepat, utamanya ketika timbul suatu masalah yang nantinya akan dikaitkan dengan karir dan peningkatan kesejahteraan hidup seorang penyiar. Kalau salah dalam menyikapi akan timbul lingkaran setan yang pada akhirnya merugikan image dan profesi penyiar.
Ambil contoh, sebuah radio dengan kondisi pemasukan iklan yang bagus, namun pihak manajemen atau owner kurang memberikan penghargaan yang layak bagi penyiarnya. Apa yang bakal terjadi ? Penyiar akan kehilangan semangatnya, kualitas siarannya menjadi menurun dan berdampak pada kualitas program secara keseluruhan, yang menyebabkan pendengar juga menjadi malas untuk mendengarkan radio itu dan pengiklan juga ogah untuk memasang iklan di radio yang pendengarnya sedikit, apalagi dengan kualitas penyiar dan program yang buruk. Ujung-ujungnya, pihak perusahaan semakin tidak mampu membayar penyiarnya dengan layak, bahkan bayangan PHK semakin di depan mata. Atau kalaupun perusahaan masih bisa berjalan, penyiarnya sudah lebih duluan keluar dari radio itu untuk mencari perusahaan atau radio lain yang lebih baik dalam memberikan salary bagi karyawannya.
Begitu pula sebaliknya, ketika seorang penyiar yang bekerja di sebuah radio yang masih baru (atau lama) yang belum sehat dari sisi keuangannya, semestinya ia harus tetap mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kreativitas dan kualitas siarannya. Diharapkan dengan kreativitas dan kualitas yang meningkat, pendengar akan senang mendengarkan program yang dibawakannya, sehingga jumlah mereka semakin meningkat, yang berikutnya akan berdampak pada bertambahnya pemasang iklan di radio tersebut. Ujung-ujungnya, radio itu akan semakin besar dan kesejahteraan karyawannya akan semakin meningkat.
Dari ke dua contoh tadi bisa disimpulkan kualitas penyiar adalah salah satu hal terpenting – di samping juga kualitas marketing, administrasi dan posisi yang lain di radio bersangkutan - yang menentukan bagus tidaknya prospek perusahaan di masa depan, termasuk prospek penyiar itu sendiri
Kembali ke pertanyaan di awal, kalau begitu, sebenarnya masih bagus tidak sih prospek profesi penyiar ? Jawabannya : BAGUS. Tergantung di stasiun radio mana dan radio seperti apa tempat dia bekerja. Kalau stasiun radionya besar, incomenya bagus, tentunya penghargaan terhadap karyawannya harus lebih bagus dibanding yang lain. Apapun itu perusahaannya. Masa’ sih perusahaan radio dengan income ratusan juta bahkan miliaran per bulan tidak mampu mensejahterakan penyiarnya ?
Kemudian, pertanyaan ke dua, apakah masih perlu pendidikan kepenyiaran itu ? Jawabnya tentu saja , masih perlu dan sangat perlu. Bagaimana seorang calon penyiar maupun penyiar bisa bersaing untuk meraih prestasi bahkan meningkatkan jumlah pendengar di radionya, kalau bekal yang dimilikinya hanya rata-rata atau di bawah rata-rata ? Semua stasiun radio pasti menginginkan mempunyai seorang penyiar yang berkualitas, creative dan punya kemampuan lebih dibanding yang lain. Tidak ada radio dengan income besar yang mempekerjakan penyiar yang tidak berkualitas. Nah, supaya penyiarnya yang berkualitas bisa tetap bertahan, tentunya dia harus berani membayar mahal untuk itu. Jadi, dalam hal ini, pendidikan kepenyiaran memang sangat diperlukan sekali bagi mereka yang ingin atau sudah terjun di dunia broadcat.
Berikutnya, timbul pertanyaan ke 3. Apakah ada jaminan setelah mengikuti kursus atau kependidikan kepenyiaraan seseorang lantas bisa otomatis diterima menjadi penyiar atau bisa berprestasi lebih dibanding penyiar yang lain ?
Jawabannya : Tidak ada jaminan. Semuanya kembali ke individu masing-masing.
Seperti juga halnya ribuan mahasiswa yang mengambil kuliah di perguruan tinggi, apakah ada jaminan setelah mereka lulus semuanya akan bisa diterima kerja sesuai jurusannya ? Tentu juga tidak ada. Yang penting adalah mereka telah diberi bekal yang cukup, baik secara teori maupun praktek, sehingga peluang mereka untuk sukses jauh lebih besar dibanding mereka yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai.
Begitu juga di pendidikan kepenyiaran. Peserta akan dibekali pengetahuan mengenai ilmu komunikasi, utamanya di dunia kepenyiaran, baik secara teori maupun praktek, yang akan membuat mereka jauh lebih siap untuk memasuki dunia kerja, tidak hanya di radio tetapi juga di tempat lain.
Kok bisa di tempat lain ? Ya, karena dengan bekal kemampuan mereka di bidang komunikasi tentunya akan sangat menunjang sekali dalam menempuh perjalanan studi maupun karir mereka. Yang pasti keberanian untuk berbicara akan meningkat, begitu pula rasa percaya diri, wawasan, dan lain sebagainya. Bahkan tidak sedikit yang bisa berkarir sebagai presenter di televisi. Hal ini bisa terjadi karena mereka telah memiliki bekal yang cukup di dunia kepenyiaran radio, yang bisa dibilang sebagai basic dari segala ilmu kepenyiaran / broadcasting.
Jadi kesimpulannya, pendidikan kepenyiaran memang perlu dan penting, khususnya bagi mereka yang berminat untuk terjun sebagai penyiar ataupun yang sudah berprofesi sebagai penyiar. Tentunya kita harus jeli dan bijak dalam memilih lembaga pendidikan. Jangan sembarangan dalam memilih. Perlu diperhatikan misalnya dari aspek legalitas lembaga pendidikannya, kemudian kelengkapan fasilitas prakteknya, dan yang terpenting tenaga pengajarnya. Akan lebih baik apabila tenaga pengajarnya adalah praktisi yang sudah berpengalaman, baik secara teori maupun prakatek, bukan mereka yang baru 2-5 tahun menjadi penyiar.
Justru sekarang yang jadi masalah adalah apakah yang mereka yang berada di level atas manajemen sebuah perusahaan jasa penyiaran, entah itu sekedar pengelola atau bahkan owner, mau untuk memahami dan belajar secara mendalam tentang dunia kepenyiaran ? Ataukah mereka menganggap bisnis radio sama halnya seperti menjalankan bisnis yang lain, sehingga tidak perlu lagi untuk belajar dan memahami dunia kepenyiaran ?